Bongkar-bongkar facebook, dapet cerita sedih gan >,< *mewek*

on Minggu, 05 Februari 2012

Sudah hampir  3 jam fika mondar-mandir mengelilingi kamarnya, gadis ini terlihat sangat gelisah. Berulang kali dia melirik hp kecil yang ada di tempat tidurnya, tapi tak ada satu pun pesan masuk yang tampak di hp itu.

“Kamu kemana, sih? Kok sms ku nggak dibales ” gerutu fika sambil menulis sms dengan cepat .

Sebelum Fika sempat mengirim sms,ternyata sebuah SMS masuk lebih dulu dan di layar ponsel itu tertulis “LoveLy”. Secepat kilat dia membuka SMS itu lalu membacanya dengan tidak sabar.Ternyata orang yang selama ini dia tunggu itu baru saja pulang dari kerjanya . Setelah membalas SMS itu, Fika memejamkan matanya untuk tidur, karena malam telah larut.

Keesokan harinya...

Seperti biasa, Fika selalu mengirimkan ucapan selamat pagi pada kekasihnya sebelum dia berangkat kuliah. Namun, hatinya kembali tak tenang ketika sang kekasih belum juga membalas SMS-nya hingga malam hari. Berkali-kali dia mengirimkan SMS, hingga akhirnya balasan yang ditunggu datang.

“-aku udah solat dan makan kok-“

Fika langsung membalas SMS itu, tapi setelah beberapa kali SMS-an, dia merasa ada yang aneh dengan pesan dari kekasihnya itu. Hingga akhirnya dia tahu kalau ternyata yang membalas SMS itu bukanlah Vidhi pacarnya, tapi temannya. Hal itu membuat Fika sangat marah dan tidak membalas SMS itu lagi. Dia berharap pacarnya akan menghubunginya dan meminta maaf langsung padanya.

Tapi pertengkaran itu malah berlanjut hingga malam hari. Meskipun Vidhi telah meminta maaf, tapi Fika masih juga kesal.
dengan sikap Vidhi yg tidak mau membalas SMS-nya. Dan malam itu pun berakhir tanpa ada SMS dari keduanya.

Pertengkaran kedua pasangan itu berakhir dengan kata PUTUS yang dikirimkan lewat SMS oleh Vidhi . Hal itu membuat Fika yang sejak awal sudah sedih akhirnya menangis di depan sahabat-sahabatnya. Dia tidak menyangka pacar yang selama ini sangat dicintainya ternyata tega memutuskan hubungan mereka begitu saja. Namun, setelah mendengar alasan Vidhi yang sudah merasa tidak nyaman lagi dan sudah Lelah dengan sikap fika selama ini , Fika akhirnya menerima keputusan itu dengan hati yang hancur.

Malam harinya, Fika yang masih stres dengan kenyataan yang menyakitkan itu mendadak jatuh sakit. Tubuhnya demam dan kadang dia menggigil. Dia berharap Vidhi akan menghubunginya dan bilang kalau mereka tidak jadi putus. Tapi harapan itu, hanya menjadi harapan semata, karena tak satu pun SMS dari Vidhi yang masuk ke hp-nya.
------------------------------------
Sudah hampir seminggu Fika sakit, hingga akhirnya dia harus di rawat di rumah sakit. Tapi kondisinya belum juga membaik. Maag yang selama ini di deritanya ternyata sudah sangat parah hingga menimbulkan pendarahan. Dokter pun mengatakan kalau salah satu faktor yang menyebabkan penyakit Fika semakin parah adalah stres yang dialaminya hingga membuat kondisi tubuhnya menurun.

Nara, sahabat Fika yang paling mengerti keadaan Fika hanya bisa menatap iba tubuh sahabatnya yang sekarang terkulai lemah diatas tempat tidur. Wajahnya pucat dan tubuhnya semakin kurus. Nara sangat mengerti perasaan Fika yang merasa sangat kehilangan Vidhi kekasihnya. Kadang samar-samar dia mendengar Fika menyebut nama Vidhi dalam tidurnya, dan hal itu membuat Nara menangis, tak sanggup melihat penderitaan yang di rasakan oleh sahabatnya itu.

“Ka, gmn keadaan kamu sekarang?” tanya Nara ketika sahabatnya baru saja bangun.

“Alhamdulillah udah mendingan, udahlah nggak usah cemas gitu” jawab Fika, wajahnya terlihat pucat.

“Kamu masih mikirin Vidhi, ya?”

“Maksud kamu?”

“Dari kemarin aku dengar kamu memanggil nama Vidhi berkali-kali saat kamu lagi tidur. Kamu kepikiran dia lagi?” tanya Nara cemas.

“Iya, aku kangen sama dia. Apa dia menghubungiku?” jawab fika.

“Setahu aku, sih, belum ada SMS ataupun telepon dari dia. Kenapa?”

“Enggak apa-apa, cuma mau tahu aja dia peduli atau nggak” jawabnya, wajahnya terlihat sedih.
“Apa perlu aku telepon dia untuk kasih tahu keadaan kamu?”

“Enggak usah, aku nggak mau dikasihani sama dia.”

Nara hanya bisa diam mendengar jawaban sahabatnya itu. Rasa kagum dan sedih bercampur di hatinya. Kagum akan ketegaran sahabatnya itu, tapi sedih melihat penderitaan yang harus dialami Fika. Nara tahu di saat sakit seperti itu, pasti Fika ingin Vidhi ada bersamanya, dan nggak meninggalkannya seperti ini.

Hampir tiga minggu Fika di rawat di rumah sakit, dan selama itu juga Nara selalu memperhatikan perkembangan kesehatan sahabatnya itu. Setiap kali Fika merasa sakit di tubuhnya ataupun tubuhnya demam, Fika selalu mendengarkan sebuah Melodi akuistik ciptaan Vidhi, mantan kekasihnya. Dan seperti mukjizat, keadaan Fika perlahan membaik setelah mendengar Melodi itu.  akhirnya mengerti kerinduan Fika pada Vidhi sangatlah besar hingga menyiksa seluruh tubuhnya bukan hanya hatinya.

Hingga suatu hari, tanpa sepengetahuan Fika, Nara menelpon Vidhi yang ada di luar kota. Dia menceritakan keadaan Fika pada cowok itu, dan dia juga meminta Vidhi untuk datang menemui Fika. Tapi, Vidhi masih belum juga mau menemui Fika.

“Aku mohon sama kamu Vidhi, Fika butuh kamu. Tolong datanglah ke Surabaya dan temui Fika walaupun hanya sebentar” ucap Nara.

“Aku belum bisa menemui dia, lagipula kehadiranku malah bisa membuat dia semakin sakit” jawab Vidhi.

“Satu kali saja, tolong temui dia. Mungkin dengan bertemu denganmu dia bisa sembuh. Atau kamu akan menyesal” paksa Nara.

“Apa maksud kamu? Memang penyakitnya itu parah?”

“Datang dan lihatlah sendiri keadaan Fika sekarang. Sebelum kamu menyesal untuk selamanya” ucap Nara sebelum mengakhiri teleponnya.

Beberapa hari setelah Nara menelfon , Vidhi mengabari Nara kalau dia akan ke Surabaya untuk menemui Fika. Nara yang mendapat kabar menggembirakan itu langsung menemui Fika. Tapi sayangnya Fika sedang tidur saat itu. Nara hanya bisa menunggu, sampai Vidhi tiba di Surabaya dua hari lagi.

Hari itu akhirnya tiba juga. Vidhi, orang yang selama ini di tunggu kedatangannya oleh Fika dan Nara akhirnya datang. Dia meminta Nara mengantarkannya ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Vidhi terdiam melihat keadaan gadis yang ada di kamar rawat itu. Sosok yang selama ini tidak pernah di jumpainya, kini dilihatnya dengan kondisi yang memprihatinkan. Selang infus terpasang di tangannya, matanya terpejam, tapi di kedua telinganya terpasang headset agar Fika bisa selalu mendengarkan meLodi yang bisa menenangkan.

“Dia hanya sedang tidur. Tunggu saja, sebentar lagi juga dia bangun” ucap Nara yang berdiri di belakang Vidhi.

“Sudah berapa lama dia seperti ini?” tanya Vidhi, dia mulai berjalan mendekati tempat tidur Fika.

“Hampir satu bulan dia terbaring di tempat tidur itu. Sekarang coba kau dengar lagu yang sedang di dengarkan Fika” ucap Nara sambil melepas satu headset itu dan memberikannya pada Vidhi.

Vidhi terkejut ketika mendengar Melodi akuistik itu, Melodi yang pernah dia ciptakan untuk Fika dulu. Dia tidak menyangka gadis itu masih menyimpan rekaman Melodi itu. Kedua matanya menatap wajah Fika yang tertidur.

“Itulah yang membuat Fika bertahan selama ini.Itu yang dia lakukan bila sedang merindukanmu. Suaramu yang sangat dia rindu” ucap Nara.

Vidhi yang masih merasa terkejut perlahan memegang tangan Fika kedua matanya tak lepas dari wajah Fika. Terlihat masih ada kasih sayang yang dalam dari tatapan itu. Tiba-tiba tangan Fika yang di pegang Vidhi bergerak, Fika bangun dari tidurnya. Dan dia terkejut ketika ada seorang cowok duduk di sampingnya sambil memegang tangannya.

“Tenang, Fik. Dia Vidhi orang yang selama ini kamu rindu” ucap Nara.

“Vidhi? Kenapa bisa ada disini?” tanya Fika yang masih terkejut.

“Maaf, ya. Aku yang menelpon dia dan meminta dia untuk datang menjengukmu. Karena aku nggak tega melihat kamu seperti ini terus.”

“Kenapa kamu bisa sampai kayak gini? Kenapa kamu nggak menjaga kesehatanmu?” tanya Vidhi yang masih tetap menatap wajah Fika.

“Itu bukan urusanmu” sahut Fika sambil melepaskan genggaman Vidhi.
“Waktu itu kamu kan udah janji, bisa terima keputusanku untuk mengakhiri hubungan kita, dan berjanji akan baik-baik saja. Tapi kenapa sekarang kamu kayak gini?”

Fika hanya diam dan memalingkan wajahnya dari Vidhi. Sementara Vidhi masih terus berbicara pada Fika. Nara yang melihat itu hanya berharap keadaan Fika akan membaik setelah bertemu Vidhi. Dan ternyata benar, setelah berdebat cukup lama akhirnya Fika dan Vidhi mulai akrab kembali. Wajah Fika yang tadinya pucat juga mulai berubah cerah.

Pertemuan antara Fika dan Vidhi terus berlangsung selama seminggu, dan selama itu keadaan Fika berangsur membaik. Suatu hari, Fika ingin pergi ke pantai bersama Vidhi, dia ingin melihat sunset bersama orang yang di cintainya. Walaupun awalnya dokter, orang tua Fika, dan Vidhi tidak setuju, tapi demi kesembuhan Fika, akhirnya mereka menyetujui permintaan Fika itu. Dan pergilah mereka berdua ke pantai untuk melihat sunset.

Di pantai itu, Vidhi menyanyikan lagu yang baru di buatnya untuk Fika. Lagu yang liriknya adalah ciptaan Fika, dulu dia pernah meminta Vidhi untuk menciptakan lagu dari lirik yang dibuatnya. Dan kini lagu itu telah selesai dan Vidhi menyanyikannya secara langsung untuk Fika.

Keadaan yang sangat romantis itu membuat Fika bahagia. Berkali-kali dia tersenyum dan tertawa saat bersama Vidhi. Kebahagiaan yang entah akan bertahan sampai kapan.

“Aku bahagia banget hari ini, karena bisa pergi sama kamu, tertawa dan melihat sunset bersama kamu. Dan yang lebih membahagiakan, aku bisa mendengar lagu itu secara langsung” ucap Fika sambil memandang langit.

“Aku juga senang bisa jalan sama kamu. Makanya kamu harus cepat sembuh, nanti kita bisa jalan-jalan lagi” sahut Vidhi.

“Iya. Rasanya aku nggak ingin ini berakhir, aku ingin terus bersama kamu. Bahagia seperti ini.”

Vidhi hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Fika. Lalu mencium kening Fika dengan lembut. Fika yang terkejut hanya bisa menatap Vidhi, lalu tersenyum.

“Aku sayang kamu. Cepat sembuh, ya” ucap Vidhi.
“aku juga sayang banget sama kamu Vid,jangan tinggalin aku Vid “ ucap Fika

Air mata mengalir dari mata Fika. Suasana mengharukan itu terlihat sangat membahagiakan. Setelah itu mereka kembali ke rumah sakit karena Fika masih harus di rawat.
* * *
Sebuah kabar mengejutkan membuat Vidhi dan Nara datang ke rumah sakit lebih pagi dari biasanya. Keadaan Fika yang belakangan ini mulai membaik, tiba-tiba drop. Semua dokter dan perawat sibuk mengatasi keadaan itu. Sedangkan Vidhi, Nara dan keluarga Fika hanya bisa menunggu dan berdoa dari luar ruang ICU.

Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya dokter membolehkan mereka untuk masuk ruangan itu dan melihat kondisi Fika yang sudah sadar. Wajah gadis itu semakin pucat dan tubuhnya dingin. Tapi dia masih tersenyum saat melihat keluarga dan dua orang yang berharga baginya itu masuk ke kamarnya.

Kamu nggak apa-apa kan, sayang?” tanya orang tua Fika.

“Aku baik-baik aja kok, Ma” sahut Fika yang masih lemah.

“Vidhi bolehkah aku tidur dalam pelukanmu ? dan tolong nyanyikan lagu itu aku ingin mendengarnya sekarang ” ucap Fika dengan suara yang hampir seperti bisikan.

“Nanti saja, sekarang kamu istirahat dulu” sahut Vidhi sambil memeLuk Fika.

“Aku mau mendengarnya sekarang. Aku lelah,aku ingin tidur dipundakmu sambiL mendengarkan Lagu itu untuk menemani tidurku . “

“Nyanyikan saja” ucap Mama Fika.

Akhirnya Vidhi menyanyikan lagu yang ingin di dengar Fika itu. Tubuhnya yg memeLuk Fika dengan erat, Fika juga memeLuknya dengan erat seperti tak mau lepas lagi. Perlahan matanya terpejam dan akhirnya dia tertidur. Tapi bukan tidur biasa, karena monitor yang menunjukkan gerakan jantung Fika perlahan berhenti, hingga akhirnya sebuah garis muncul di monitor itu. Dan tak ada lagi pergerakan grafik detak jantung Fika. Vidhi yang dari tadi memeluk tubuh Fika merasa tubuh Fika perlahan melemah dan hampir jatuh dan tangan Fika perlahan mulai melepaskan pelukan Vidhi.

Mereka terus memanggil Fika khususnya Vidhi yg sedari tadi memeluk Fika, tapi dia tidak juga membuka matanya. Dokter juga sudah mengatakan kalau Fika telah pergi untuk selamanya. Air mata seperti tak bisa berhenti mengalir dari mata keluarga Fika, Nara dan Vidhi. Mereka tidak menyangka, Fika yang mereka kira akan segera sembuh ternyata meninggalkan mereka secepat itu.

Begitu juga Vidhi, dia tidak mengira kalau lagu yang dia nyanyikan itu adalah lagu terakhir untuk Fika. Sebelum wajah Fika di tutupi kain putih, Vidhi mencium kening gadis yang pernah di cintainya itu dengan lembut.

“Selamat jalan, sayang. Maafkan aku yang telah membuatmu seperti ini. Aku menyesal telah meninggalkanmu. Semoga kau tenang disana. Aku yg mencintaimu Fika” ucap Vidhi sambiL memeluk fika untuk yg terakhir kalinya.

Dia tidak menyangka Fika yg mencintainya telah meninggalkannya karna kebodohannya sendiri .

Keesokan harinya ..

Hari itu gerimis mengiringi hari pemakaman fika , keluarga dan sahabat-sahabat fika juga hadir tak luput juga Vidhi . hingga pemakaman selesai tp, hanya Vidhi yg masih tetap disitu .
Sambil menangis samar-samar dia mendengar suara Fika disampingnya dan melihat bayangan Fika yg memakai baju putih dengan sinar .


Fika berkata “ sudah Vidhi aku sudah tenang terima kasih karna kamu sudah mewarnai hariku yg begitu indah ..
jika kau merindukanku tatap bintang pada malam hari aku akan hadir disetiap malam ..
seLamat tinggal Vidhi , semoga cerita cinta kita tersimpan abadi walau aku sudah tiada .. aku yg mencintaimu Vidhi “ suara bayangan Fika yg membuat Vidhi tertegun dan meneteskan air mata , sebelum bayangan Fika menghilang . Vidhi merasakan kecupan bibir Fika yg Lama – keLamaan muLai menghilang .



“aku juga mencintaimu Fika” Sahut Vidhi sambiL meneteskan air mata , saat itulah terakhir kaLinya Vidhi merasakan kecupan bibir Fika .
“dan sampai kapanpun cinta itu takkan mati “ ucap Vidhi daLam hati.

“Cintaku yang tak pernah mati walaupun jiwaku sudah tiada , walaupun aku telah tiada tp.smoga kamu bisa mengenangku hingga akhir nanti . kenangan kita tak bisa di ulang tp. Hanya bisa terkenang “

0 komentar:

Posting Komentar